Friday, September 19, 2014

WAWASAN KEBANGSAAN DAN INTEGRITAS NASIONAL



A.   Pengertian Wawasan Kebangsaan
Pengertian
Wawasan berarti :
 (1) hasil mewawas; tinjauan ; pandangan
 (2) konsepsi cara pandang.
“Wawasan Nusantara” :konsepsi cara pandang dalam mencapai Tujuan Nasional yang mencangkup perwujudan kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan politik, sosial budaya,ekonomi dan pertahanan keamanan.
Kebangsaan: ciri- ciri yang menandai golongan bangsa tertentu dan kesadaran diri sebagai warga dari suatu Negara.
2 (dua) aspek Wawasan Nusantara :
-          Aspek Moral
Perjanjian diri atau commitment masyarakat eksistensi bangsa.
-          Aspek Intelektual
Pengetahuan mengenai tantangan bangsa dan berbagai potensi bangsa.
Wawasan kebangsaan : cara memandang kemampuan untuk memahami keberadaan jati dirinya sebagai suatu bangsa dan bertingkah laku sesuai falsafah hidup bangsanya dalam lingkungan internal dan lingkungan eksternal.
Wawasan mendayagunakan kondisi geografis, sejarah, sosiobudaya, ekonomi dan politik serta pertahanan keamanan dalam mencapai cita- cita dan kepentingan nasionalnya, dan menempatkan dirinya dalam pergaulan internasional.
Wawasan Kebangsaan Indonesia
Wawasan kebangsaan Tercetus pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Berbagai hal yang melatarbelakangi wawasan kebangsaan:
Abad ke 7 sampai dengan 16, bangsa Indonesia berada dalam masa “Kerajaan Nusantara” yaitu Sriwijaya (abad ke-7 s.d. 12) dan Majapahit (abad ke 13 s.d. 16), bangsa Indonesia mencapai puncak kemegahannya sebagai bangsa yang merdeka, bersatu, berdauat, adil dan makmur. Politik luar negeri dikenal dengan “mitreka santata” (good neighbour policy) dan politik persatuan “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrud ”. Kedatangan bangsa Portugis, Belanda,Inggris memecah belah persatuan berakhirlah periode Kerajaan Nusantara dan mulai periode penjajahan. Muncul kesadaran perjuangan nasional yang berlandaskan persatuan dan kesatuan bangsa.
Pergerakan Budi Oetomo, didirikan 20 Mei 1908 merupakan tonggak sejarah perjuangan nasional karena tekad untuk merdeka, pengejawantahan dari satu wawasan kebangsaan.
Nilai Dasar Wawasan Kebangsaan
1)    Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa.
2)    Tekad untuk berkehidupan kebangsaan yang bebas, merdeka, dan bersatu.
3)    Cinta akan Tanah Air dan Bangsa.
4)    Kesetiakawanan Sosial.
5)    Masyarakat adil dan makmur.
Makna Wawasan Kebangsaan
Menempatkan persatuan, kesatuan serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan Negara diatas kepentingan pribadi dan golongan.
Wawasan Nusantara:  bahwa Negara Indonesia merupakan suatu satu kesatuan dipandang dari segala aspeknya, yang mencangkup:
1)    Kesatuan Politik
a)    Kedaulatan nasional merupakan satu kesatuan wilayah, ruang hidup dan kesatuan matra seluruh bangsa.
b)    Bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku menganut berbagai agama.
c)    Secara psikologis, bangsa Indonesia merasa satu, senasib sepenanggungan mencapai cita-cita bangsa.
d)    Falsafah serta ideology bangsa dan Negara
e)    Kepulauan Nusantara merupakan satu kesatuan wilayah hukum nasional.
2)    Kesatuan Sosial Budaya
a)    Masyarakat Indonesia seimbang dan merata serta keselarasan hidup
b)    Budaya Indonesia pada hakikatnya adalah satu.
3)    Kesatuan Ekonomi
a)    Kekayaan dalam wilayah Nusantara modal dan milik bersama bangsa
b)    Tingkat perkembangan ekonomi harus sesuai dan seimbang diseluruh daerah.
4)    Kesatuan Pertahanan Keamanan
a)    Ancaman terhadap sesuatu daerah merupakan ancaman seluruh bangsa dan Negara.
b)    Bahwa tiap- tiap warga Negara mempunyai hak dan kewajiban dalam usaha pembelaan Negara.

B.   Pengertian dan Konsep Integritas
Pengertian Integritas Nasional
Integrasi mempunyai arti “pembaruan atau penyatuan menjadi kesatuan utuh atau bulat”. Nasional mengandung pengertian:
(1) kebangsaan;
(2) bersifat bangsa sendiri.
Integritas Bangsa: proses penyatuan atau pembaruan berbagai aspek sosial- budaya ke dalam kesatuan wilayah dan pembentukan identitas nasional atau bangsa menjamin terwujudnya keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam mencapai tujuan bangsa.
Keselarasan: suasana yang tertib, teratur, aman dan damai, ketentraman lahir dan batin.
Keserasian: terpadunya unsur-unsur kehidupan bersama. Terdiri atas berbagai suku, adat-istiadat, agama, bahasa (daerah).
Keragaan itu diakui,dihormati dengan penuh toleransi.
Konsep Integritas Nasional Indonesia
Bersumber dari pemikiran Mr. Soepomo di depan siding BPUPKI pada tahun 1945.

Negara dibentuk untuk menjamin kepentingan masyarakat seluruhnya sebagai persatuan.
Negara adalah suatu masyarakat yang integral penghidupan bangsa seluruhnya, Negara tidak memihak kepada sesuatu golongan. Negara menjamin keselamatan hidup bangsa.
Segala golongan diliputi oleh “semangat gotong royong dan semangat kekeluargaan”.
Setiap anggota warga dan setiap golongan diakui dan dihormati keberadannya (eksistensinya) diakui hak dan kewajibannya.
Ciri- ciri integralistik:
        –    Bagian atau golongan merupakan kesatuan organis

        -    Eksistensi setiap unsur hanya berarti

        –     Tidak memihak pada golongan yang kuat

        -      Tidak terjadi dominasi mayoritas dan tirani minoritas

        –       Tidak member tempat bagi individualisme, liberalisme dan totalitarisme.

Ada 4 tugas konstitusional:
(1)  Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

(2)  Memajukan kesejahteraan umum.

(3)  Mencerdaskan kehidupan bangsa.

(4)  Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Satuan masyarakat sosial politik dalam pasal18 UUD 1945 :
(1)  NKRI dibagi atas daerah provinsi, kabupaten dan kota yang mempunyai pemerintahan daerah.

(2)  Pemerintahan daerah mengatur pemerintah menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

(3)  Pemerintah daerah memiliki DPRD yang dipilih melalui pemilihan umum.

(4)  Gubernur, Bupati dan Walikota dipilih secara demokratis.

(5)  Pemerintah daerah menjalankan otonomi seluasluasnya kecuali urusan pusat.


(6)  Pemerintahan daerah menetapkan peraturan daerah untuk melaksanakan otonomi.

KONSEP DAN PENGERTIAN TENTANG NEGARA DAN BANGSA


A.   Teori Mengenai Negara
Manusia sebagai makhluk sosial selalu hidup bersama-sama dalam suatu kelompok untuk mempertahankan hidupnya.
Diperlukan sekelompok kecil orang untuk memimpin kelompoknya yang diberikan kekuasaan/kewenangan, dan anggota kelompok wajib mentaati peraturan atau perintah pemimpinnya.
Timbullah pemerintahan yang sederhana
Peraturan itu menjadi peraturan tertulis
Dibentuk organisasi yang lebih teratur dan memiliki kekuasaan yang memadai yang kemudian dinamakan Negara.
Negara : dari bahasa asing Staat, State status atau statuni yang berarti keadaan yang menunjukkan sifat atau keadaan tegak dan tetap.
Pengertian negara:
J.H.A. Logemaan :
Negara bertujuan mengatur dan menyelenggarakan masyarakat yang dilengkapi dengan kekuasaan tertinggi. Pandangan itu diikuti oleh Harold J. Laski, Max Webber dan Leon Duguit
George Jellinek:
Organisasi kekuasaan sekelompok manusia di wilayah tertentu
G.W.F. Hegel:
Organisasi kesusilaan sebagai sintesa kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal.
Kranenburg:
Organisasi yang timbul karena kehendak bangsanya sendiri.
Roger F. Soltau:
Alat atau wewenang yang mengatur persoalan bersama masyarakat.
R. Djokosoetono:
Organisasi manusia di bawah suatu pemerintahan yang sama.
Soenarko:
Organisasi masyarakat yang mempunyai daerah tertentu, kekuasaan Negara berlaku sebagai kedaulatan.
Pengertian umum Negara adalah Organisasi yang didalamnya harus ada rakyat, wilayah dan pemerintah yang berdaulat.
Teori terjadinya suatu Negara:
Teori Kenyataan
Timbulnya suatu Negara itu adalah suatu kenyataan. Apabila telah terpenuhi unsur- unsur Negara maka Negara sudah menjadi suatu kenyataan.

Teori Ketuhanan
Timbulnya suatu Negara adalah kehendak Tuhan. Kalimat-kalimat “ Atas berkat rakhmat Tuhan Yang Maha Kuasa….” By the Grace of God….”menunjuk kearah teori ini.
Teori Perjanjian
Negara timbul karena perjanjian yang dibuat orang- orang yang tadinya hidup bebas merdeka. Perjanjian itu disebut perjanjian masyarakat (Contract Sosial menurut ajaran Rousseau).
Teori Penaklukan
Suatu Negara timbul karena menaklukkan daerah dan rombongan manusia lain.
Pemberontakan terhadap Negara lain yang menjajah, Amerika Serikat terhadap Inggris pada tahun 1776
Peleburan (fusi) antara beberapa Negara: Jerman bersatu pada tahun 1871
 Suatu daerah tertentu melepaskan diri dan menyatakan dirinya sebagai suatu Negara baru. Contohnya Bangladesh.
Hal ini dapat terjadi secara damai dan dapat juga dengan kekerasan (revolusi).
B.   Bentuk Negara
Negara Kesatuan: diseluruh Negara yang berkuasa hanya satu Pemerintah. Pemerintah Negara dilaksanakan dengan sistem sentralisasi dan desentralisasi.
Sistem Sentralisasi yaitu segalasesuatu dalam Negara diatur Pemerintah Pusat. Daerah daerah tinggal melaksanakannya.
Sistem Desentralisasi, daerah diberikan kewenangan untuk mengurus urusan rumah tangganya sendiri dinamakan daerah otonom.
Negara kesatuan memiliki sifat :

Kedaulatan Negara mencakup kedalam dan keluar ditangan pemerintah pusat.
Negara hanya memiliki satu UUD, satu kepala Negara, satu Dewan Menteri, satu Dewan Perwakilan Rakyat.
Hanya ada satu kebijakan politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan.
Negara Serikat (Federasi): Negara yang merupakan gabungan beberapa Negara (Negara-negara bagian dan Negara serikat itu).
Negara bagian melepaskan sebagian darikekuasaannya, menyerahkannya kepada Negara serikat yang disebutkan satu demi satu (liminatif). Kekuasaan yang diserahkan disebut delegated powers yaitu yang berkaitan dengan hubungan luar negeri, pertahanan Negara, keuangan dan urusan pos dan telekomunikasi.
C.   Unsur Negara
Negara harus memiliki syarat- syarat:
(1) rakyat yang bersatu;
(2) daerah atau wilayah;
(3) pemerintah yang berdaulat
Konvensi Montevideo tahun 1933: unsur- unsur Negara : rakyat, wilayah, pemerintah yang mampu mengadakan hubungan internasional. Unsur rakyat, wilayah, dan pemerintah yang berdaulat merupakan unsur konstitutif. Pengakuan dari Negara lain merupakan unsur deklaratif yang bersifat formalitas dalam rangka pergaulan Internasional.
D.   Pengertian Bangsa
Bangsa merupakan perkumpulan masyarakat yang membentuk Negara.
Pendapat pakar kenegaraan:
Ernest Renan (Prancis)
Bangsa terbentuk karena adanya keinginan untuk hidup bersama
Otto Bauer (Jerman)
Bangsa adalah sekelompok manusia yang mempunyai persamaan karakter karena persamaan nasib.
F. Ratzel (Jerman)
Bangsa terbentuk karena adanya hasrat untuk bersatu karena adanya rasa kesatuan dalam tempat tinggalnya.
Hans Kohn (Jerman)
Bangsa adalah buah hasil hidup manusia dalam sejarah berupa persamaan keturunan, wilayah, bahasa, adat istiadat, kesamaan politik, perasaan dan agama.
Fredrich Hertz: setiap bangsa mempunyai 4(empat) unsur aspirasi:
Keinginan untuk mencapai kesatuan nasional (sosial, ekonomi, politik, agama, kebudayaan)
Keinginan untuk mencapai kemerdekaan dan kebebasan nasional
Keinginan dalam kemandirian, keunggulan, individualitas, keaslian atau kekhasan, misalnya bahasa nasional.
Keinginan untuk menonjol mengejar kehormatan,pengaruh dan prestise.
Bangsa Indonesia yang terdiri atas berbagai suku, bahasa daerah, adat istiadat, agama yang menghuni /bertempat tinggal di wilayah Negara yang terdiri dari 13.500 pulau.

Indonesia sebagai Negara kesatuan yang berbentuk Republik adalah Negara Kebangsaan, Negara persatuan atau Negara kekeluargaan suatu komunitas politik yang dirancang, dibangun dan dioperasikan berdasar wawasan kebangsaan.

Thursday, September 4, 2014

Mengidentifikasi Tokoh, Watak. Latar, dan Amanat dari Cerita Anak


Cerpen atau cerita pendek adalah karangan yang melukiskan kehidupan seseorang secara umum atau inti cerita saja. Di dalam cerpen hanya dilukiskan kehidupan seseorang secara sepenggal saja, misalnya cerpen tentang cerita anak yang naik kelas, pergi ke kebun binatang atau pergi ke pantai.
Ciri-ciri cerpen adalah sebagai berikut.
a.       Ceritanya pendek sehingga kamu tidak butuh waktu lama untuk membacanya.
b.      Hanya ada satu pokok cerita sehingga pembaca tidak bingung.
c.       Tidak ada perubahan nasib tokoh. Artinya, jika menceritakan masa kecil maka saat dewasa tidak diceritakan.
d.      Cerita disajikan dari perkenalan tokoh lalu adanya masalah, kemudian penyelesaian masalah.
Setiap cerita tentu mempunyai unsur-unsur pendukungnya. Unsur-unsur pendukung cerita antara lain:
1.      tokoh, yaitu pelaku cerita. Pelaku cerita bisa manusia atau binatang.
2.      watak, yaitu kepribadian tokoh.
3.      latar, yaitu tempat terjadinya cerita
4.      amanat, yaitu pesan yang ingin disampaikan penulis cerpen kepada pembaca.


PUISI

Puisi adalah kasusteraan yang paling tua. Sejak dahulu, berpuisi adalah cara kuno dalam masyarakat, atau pada waktu tersebut di sebut mantra. Dalam masyarakat Jawa terdapat tradisi nembang Jawa, lirik puisi yang dilagukan. Biasanya, nembang didendangkan pada acara-acara sakral dan penting, seperti acara mitoni, siraman, dan pesta desa lainnya.  Selain lirik puisi yang ditembangkan, juga bisa menggunakan kisah cerita, seperti kisah Raden Panji, Dewi Nawang Wulan, Jaka Tingkir, dan lainnya.
Puisi tidak hanya dilagukan untuk mengisahkan cerita, namun, puisi juga dapat dijadikan dialog-dialog dalam pementasan ludruk, ketoprak, drama tradisional Jawa, atau orang Sumatra Barat menyebutnya Randai. Puisi tak hanya indah kata-katanya, melainkan juga isinya yang mengandung petuah, nasihat, dan pesan untuk pendengar.
Dalam perkembangan puisi di Indonesia, dikenal dengan berbagai jenis tipografi da model puisi yang menunjukkan perkembangan struktur puisi tersebut. Ciri struktur puisi dari jaman ke jaman tidak hanya ditandai dengan struktur fisik, tetapi juga oleh struktur makna atau tematiknya.
Berikut perkembangan puisi di Indonesia, mulai dari angkatan balai pustaka, hingga puisi jaman sekarang.
1.      Balai Pustaka
Pada angkatan ini, puisi masih berupa mantra, pantun, dan syair, yang merupakan puisi terikat.
-    Mantra, jenis puisi tertua yang terdapat di dalam kesusastraan daerah di seluruh Indonesia. Kumpulan pilihan kata-kata yang dianggap gaib dan digunakan manusia untuk memohon sesuatu dari Tuhan. sehingga mantra tidak hanya memiliki kekuatan kata melainkan juga kekuatan batin.
-    Pantun dan Syair, puisi lama yang struktur tematik atau struktur makna dikemukkan menurut aturan jenis pantun atau syair, dalam hal ini, pantun dan syair masih berupa puisi terikat.
-     
2.      Pujangga Baru (1933-1945)
Jika pada angkatan balai pustaka penulisan puisi masih banyak dipengaruhi oleh puisi lama, maka pada angkatan Pujangga Baru diciptakan puisi baru, yang melepaskan ikatan-ikatan puisi lama. Sehingga munculnya jenis-jenis puisi baru, yaitu : distichon (2 baris), tersina (3 baris), quartrin (4 baris), quint (5 baris), sextet (6 baris), septima (7 baris), oktaf (8 baris), soneta (14 baris).
Dalam periode ini terdapat beberapa julukan untuk penyair Indonesia, seperti Amir Hamzah sebagai Raja Penyair Pujangga Baru, dan ia disebut oleh H.B. Jassin sebagai Penyair Dewa Irama. J.E. Tatengkeng disebut sebagai Penyair Api Naionalisme, dan sebagainya.
Para penyair yang dapat dikategorikan msuk dalam periode Pujangga Baru adalah :
-         Amir Hamzah, “Nyanyi Sunyi” / 1937 dan “Buah Rindu” /1941
-         Sutan Takdir Alisyahbana, “Tebaran Mega” / 1936
-         Armijn Pane, “Jiwa Berjiwa” / 1939, “Gamelan Jiwa” / 1960
-         Jan Engel Tatengkeng “Rindu Dendam” / 1934
-         Asmara Hadi, “Api Nasionalisme”
-         Dll.

3.      Angkatan 45 (1945-1953)
Jika pada periode sebelumnya melakukan pembaharuan terhadap bentuk puisi, pada periode ini dilakukan perubahan menyeluruh. Bentuk puisi soneta, tersina, dan sebagainya tidak dipergunakan lagi. Dasar angkatan 45 ini adalah adanya ‘Surat Keperecayaan Gelanggang’, yang berbunyi :
Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia dan kebudayaan ini kami teruskan dengan cara kami sendiri. Kami lahir dari kalangan orang banyak dan pengertian rakyat bagi kami adalah kumpulan campur-baur dari mana dunia baru yang sehat dapat dilahirkan.
Keindonesiaan kami tidak semata-mata karena kulit kami yang sawo matang, rambut kami yang hitam atau tulang pelipis kami yang menjorok ke depan, tetapi lebih banyak oleh apa yang diutarakan oleh wujud pernyataan hati dan pikiran kami.
Kami tidak akan memberi kata ikatan untuk kebudayaan Indonesia, kami tidak ingat akan melap-lap hasil kebudayaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudayaan baru yang sehat. Kebudayaan Indonesia ditetapkan oleh kesatuan berbagai-bagai rangsang suara yang disebabkan oleh suara yang dilontarkan kembali dalam bentuk suara sendiri. Kami akan menentang segala usaha yang mempersempit dan menghalangi tidak betulnya pemeriksaan ukuran nilai.
Revolusi bagi kami ialah penempatan nilai-nilai baru atas nilai-nilai usang yang harus dihancurkan. Demikian kami berpendapat, bahwa revolusi di tanah air kami sendiri belum selesai.
Dalam penemuan kami, kami mungkin tidak selalu asli; yang pokok ditemui adalah manusia. Dalam cara kami mencari, membahas, dan menelaahlah kami membawa sifat sendiri.
Penghargaan kami terhadap keadaan keliling (masyarakat) adalah penghargaan orang-orang yang mengetahui adanya saling pengaruh antara masyarakat dan seniman.

Angkatan 45 memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.      puisi memiliki struktur bebas
2.      kebanyakan beraliran ekspresionisme dan realisme
3.      diksi mengungkapkan pengalaman batin penyair
4.      menggunakan bahasa sehari-hari
5.      banyak puisi bergaya sinisme dan ironi
6.      dikemukakan permasalahan kemasyarakatan, dan kemanusiaan
Penyair yang dapat diktegorikan pada periode ini adalah sebagai berikut :
- Chairil Anwar Krikil Tajam / 1949, Deru Campur Debu / 1949, Tiga Menguak Takdir / 1950
-    Sitor Situmorang, Surat Kertas Hijau / 1954, Dalam Sajak / 1955, Wajah Tak Bernama / 1956, Zaman Baru / 1962
-    Harjadi S. Hartowardojo, Luka Bayang / 1964
-    Dll.


4.      Periode 1953-1961
Jika pada angkatan 45 yang menyuarakan kemerdekaan, semangat perjuangan dan patriotisme, maka pada periode ini membicarakan masalah kemasyarakatan yang menyangkut warna kedaerahan. Sifat revolusioner yang berapi-api, mulai merada. Mulai banyaknya puisi beraliran romantik dan kedaerahan dengan gaya penceritaan balada. Puisi pada periode ini banyak yang mengungkapkan subkultur, suasana muram, masalah sosial, cerita rakyat dan mitos (Atmo Karpo, Paman Ddoblang, dan sebagainya).
Cirri yang menonjol pada periode ini adalah munculnya politik dalam sastra, sehingga lahirnya LKN, LEKRA, LESBUMI, LKK, dan sebagainya.
Ciri khas puisi pada periode ini adalah :
1.      Bergaya epic (bercerita)
2.      Gaya mantra mulai dimasukkan dalam balada
3.      Gaya repetisi dan retorik semakin berkembang
4.      Banyak digambarkan suasana muram penuh derita
5.      Menerapkan masalah social, kemiskinan
6.      Dasar penciptaan balaa dari dongeng kepercayaan
Para penyair yang dapat digolongkan dalam periode ini adalah :
-         Willibrordus Surendra (W.S Rendra) Empat Kumpulan Sajak / 1961, Balada Orang-Orang Tercinta / 1957
-         Ramadhan Karta Hadimaja,  Priangan Si Jelita / 1958
-         Toto Sudarto Bachtiar, Suara / 1956
-         Dll.

5.      Angkatan 66 (1963-1970)
Masa ini didominasi oleh sajak demonstrasi atau sajak protes yang dibaca untuk mengobarkan semangat para pemuda dalam aksi demonstrasi, seperti pada tahun 1966 ketika sedang terjadi demonstrasi para pelajar dan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Lama. Penyair seperti Taufiq Ismail dan Rendra, membacakan sajak protes mereka didepan para pemuda.
Untuk mengobarkan semangat aktivitas kreatis angkatan 66, mulai munculah fasilitas-fasilitas sastra. Fasilitas tersebut antara lain, munculnya majalah Horison (1966), Budaja Djaja (1968, dan dibangunnya Taman Isail Maruki (TIM), yang menjadi pusat kebudayaan.
Pada periode ini berkembang dua aliran besar puisi. Aliran pertama adalah aliran neo-romantisme yang menegaskan sepi sebagai perlawanan yang bersifat metafisis, atas dunia. Penyair yang menganut aliran ini adalah Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Darmono, dan Abdul Hadu W.M.
Aliran yang kedua adalah aliran intelektualisme, aliran yang menekankan pada pengamatan kritis tentang dunia dan pengalaman pribadi. Penyair yang yang beraliran intelektualisme adalah Subagio Sastrowardoyo dan Toety Heraty.
Berikut penyair yang termasuk dalam angkatan 66 :
-         Taufiq Ismail, Tirani / 1966, Benteng / 1966
-         Sapardi Djoko Darmono, Dukamu Abadi / 1969, Mata Pisau / 1974
-         Linus Surjadi A.G., Pengakuan Pariyem / 1981
-         Dll.

6.      Puisi Kontemporer (1970 – sekarang)
Pada periode ini puisi disebut puisi kontemporer, puisi yang muncul pada masa kini dengan bentuk dan gaya yang tidak mengikuti kaidah puisi pada umumnya, dan memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lainnya. Dalam puisi kontemporer, salah satu yang penting adalah adanya eksplorasi sejumlah kemungkinan baru, antara lain penjungkirbalikan kata-kata baru dan penciptaan idiom-idiom baru.
Pada puisi kontemporer bertema protes, humanisme, religius, perjuangan, dan kritik sosial. Puisi kontemporer bergaya seperti mantra, menggunakan majas, bertipografi baru dengan banyak asosiasi bunyi,dan banyaknya penggunaan kata dari bahasa daerah yang menunjukkan kedaerahaannya.
Dalam dunia perpuisisan kontemporer, Sutardji mengebangakan puisi-puisi baru, dan mengiprovisasi puisinya. Hal ini terlihat pada sajak Sutardji ‘O, Amuk, Kapak’.
Yang termasuk penyair kontemporer adalah :
-         Sutardji Colzoum Bahri, O, Amuk, Kapak­ , Tragedi Winka Sihka, Batu
-         Emha Ainun Najib, ‘M’ Frustrasi / 1976, Nyanyian Gelandangan / 1981
-         Sapardi Djoko Darmono, Dukamu Abadi / 1969, Mata Pisau / 1974
-         Dll.

Ciri-ciri Puisi Lama:
1. Anonim (pengarangnya tidak diketahui)
2. Terikat jumlah baris, rima, dan irama
3. Merupakan kesusastraan lisan
4. Gaya bahasanya statis (tetap) dan klise
5. Isinya fantastis dan istanasentris

Ciri-ciri Puisi Baru:
1. Pengarangnya diketahui
2. Tidak terikat jumlah baris, rima, dan irama
3. Berkembang secara lisan dan tertulis
4. Gaya bahasanya dinamis (berubah-ubah)
5. Isinya tentang kehidupan pada umumnya